Senin, 02 Agustus 2010

PERSOALAN SEPUTAR KITAB SUCI (10)

91. Apakah yang dimaksud dengan Injil sinoptik?
Dengan kata "Injil sinoptik" dimaksudkan Injil Matius, Markus dan Lukas. Kata sinoptik berarti "dapat dilihat dalam satu pandangan." Yang dimaksudkan ialah bahwa Injil Matius, Markus, Lukas sangat mirip, sedemikian rupa, sehingga mudah dapat disejajarkan. Dan tidak hanya dapat disejajarkan, tetapi juga dapat dibandingkan dan dengan demikian dapat langsung melihat bagaimana rumusan Markus agak berbeda dengan Matius dan Lukas. Tetapi pada dasarnya mereka sama. Injil-Injil sinoptik sangat tergantung satu dengan yang lain. Namun masing-masing mempunyai corak dan caranya sendiri sesuai dengan bakat dan watak masing-masing pengarangnya.

92. Apakah ciri-ciri Injil sinoptik?
Ciri-ciri Injil sinoptik ialah bahwa secara cukup lengkap menggambarkan perjalanan Yesus sejak dari hidup-Nya di Nazaret sampai dengan wafat dan kebangkitan-Nya di Yerusalem. Dalam Injil-injil itu dengan cara yang berbeda-beda diberi lukisan mengenai diri Yesus, dengan menggambarkan tindakan dan perbuatan-Nya dan dari lain pihak juga, khususnya dalam Injil Matius dan Lukas, menyajikan ajaran-Nya. Pokok dari Injil-injil ini seperti juga dari Injil Yohanes, ialah mau memberikan suatu gambaran tentang siapa Yesus itu. Dan ternyata dalam Injil Matius, Yesus lebih dikemukakan sebagai Guru dan Pemimpin. Markus lebih melukiskan-Nya sebagai Penebus, Dia yang harus menderita untuk rakyat-Nya. Sebaliknya dalam Injil Lukas, Yesus adalah Tuhan yang mulia, yang penuh kuasa bertindak di antara murid-muridnya. Dan Injil Yohanes, yang memang berbeda dengan sinoptisi, lebih menonjolkan keallahan Yesus. Walaupun Injil-injil sinoptik semua mempunyai kerangka yang sama, yang oleh Matius dan Lukas diambil alih dari Markus, namun masing-masing mempunyai cirinya yang khas. Matius sangat menekankan Gereja sebagai jemaat yang didirikan oleh Yesus. Matius juga sangat bersifat yahudi dalam arti bahwa, entah karena diri Matius sendiri, entah karena umat yang untuknya ia menulis Injil, sangat banyak memperlihatkan perhatian untuk masalah-masalah yahudi. Sebaliknya Injil Lukas adalah Injil untuk orang kafir, dengan tekanan pada sasaran universal dari karya dan pewartaan Yesus dan para Rasul. Lukas juga mernperlihatkan perhatian yang sangat besar untuk orang yang tidak berdaya dalam masyarakat, khususnya orang miskin, anak-anak, kaurn wanita, orang berdosa, pendek kata semua orang yang tidak terpandang dalam masyarakat yahudi. Oleh Lukas, Yesus digambarkan sebagai Tuhan yang mulia tetapi sekaligus juga sebagai pelayan dan penghibur umat manusia. Sebaliknya Injil Markus, yang paling pendek, rnenekankan bahwa Yesus, yang adalah Anak Allah, merendahkan diri dan menjadi tidak berdaya dan menderita untuk umat manusia. Maka Injil Markus dari satu pihak menonjolkan kekuasaan Yesus, tetapi dari lain pihak juga amat menekankan oposisi dengan orang Yahudi yang akhirnya membawa Dia kepada kematian-Nya.

93. Apa perbedaan dari Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes?
Sudah dikatakan di atas bahwa Injil-injil tidak hanya berbeda menurut gaya bahasanya, tetapi juga sedikit menurut isinya. Gambaran Yesus dalam Matius, Markus, Lukas dan Yohanes berbeda-beda. Seringkali kekhasan masing-masing pengarang Injil digambarkan secara simbolis. Matius digambarkan sebagai seorang manusia. Yesus sebagai Utusan Allah, yang menyampaikan Sabda Allah, kabar gembira dari Allah. Sebab juga mengenai Yesus sendiri dikatakan bahwa Ia "memberitakan Injil Kerajaan Allah" (Mat 4,23). Sebaliknya Markus sering digambarkan sebagai singa, sebab Markus menggambarkan daya kekuatan Allah yang ada di dalam Yesus. Yang tersimbol ialah Yesus yang adalah Anak Allah, tetapi Anak Allah yang menderita; daya kekuatan-Nya tidak tampak, sebab, karena kesatuan-Nya dengan umat manusia Ia harus memikul beban dosa umat manusia. Lukas lain. Dia seringkali digambarkan sebagai sapi, ialah binatang yang boleh dikatakan sangat lunak dan halus. Begitu juga Lukas yang penuh perhatian untuk orang kecil, untuk segala peristiwa dan perkara yang kecil. Tampaknya dia adalah pengarang Injil yang paling sederhana, yang hanya memberi dongeng, kisah hidup Yesus. Bahwa di dalamnya ia justru mau menggambarkan Yesus sebagai yang mulia, yang penuh kuasa, yang diberi Roh Kudus untuk dibagikan kepada kita, itu sering kurang kita sadari. Yang diingat dari Injil Lukas adalah terutama kisah Natalnya dan juga kisah-kisah pergaulan Yesus dengan anak-anak kecil, dengan orang sederhana, dimana juga ada perumpamaan mengenai anak yang hilang. Pokoknya Lukas memperlihatkan kebaikan hati Yesus. Tetapi Yesus yang baik hati justru memperlihatkan kasih Allah kepada manusia. Dan Yohanes yang digambarkan sebagai rajawali, menekankan keallahan Yesus itu. Dia terbang sampai ke langit yang tertinggi untuk memperlihatkan siapa Yesus sebetulnya. Yesus dalam Injil Yohanes sungguh tampil sebagai Anak Allah, penuh kekuasaan, penuh kebijaksanaan, penuh dengan kemuliaan ilahi.

94. Apakah kekhasan masing-masing penginjil?
Dengan menguraikan perbedaan antara keempat Injil kiranya juga sudah disebut kekhasan masing-masing. Tetapi juga secara literer dapat disebut kekhasan masing-masing Injil. Yang paling pandai mengarang adalah Lukas. Yang paling sederhana dan yang bahasanya seringkali amat kurang adalah Yohanes. Hal itu justru memperlihatkan bahwa pengarang itu adalah betul-betul Yohanes anak nelayan dari Tiberias. Yohanes tidak sekolah dan itu kelihatan dari bahasanya. Sebaliknya Lukas adalah seorang tabib, seorang dokter, seorang terpelajar. Maka bahasanya baik. Matius rupa-rupanya dididik di kalangan yahudi, dan oleh karena itu gaya bahasanya sangat dipengaruhi oleh logat dan bahasa serta kebiasaan yahudi.
Markus menulis sangat singkat, sangat sederhana tetapi sangat ketat. Bahasanya tidak baik, tetapi sangat merangsang dan sangat menarik. Markus seringkali membuat kejutan.

95. Mengapa para penginjil itu dilambangkan dengan, gambar tertentu?
Sudah dikatakan bahwa Matius digambarkan sebagai manusia, karena dimulai dengan silsilah Yesus sebagai manusia (Mat 1,17). Markus sebagai singa, karena mulai dengan "suara di padang gurun" (Mrk 1,3). Lukas sebagai sapi, karena mulai dengan Zakharia, yang (sementara) tidak bisa omong (Luk 1,20). Dan Yohanes sebagai rajawali, karena mulai dengan pengantar yang berteologi tinggi (Yoh 1,1-18). Ini betul-betul merupakan lambang dan simbol yang sejak abad keempat diterapkan pada keempat pengarang Injil tersebut. Dan pasti orang yang untuk pertama kali menggambarkan para penginjil itu dengan cara demikian, mempunyai maksudnya sendiri. Gambar-gambar atau simbol-simbol itu memang cukup cocok dengan kekhasan Injil masing-masing (lihat di atas pertanyaan 93). Hal ini tidak ada hubungan dengan empat binatang dari Yeh 1,10 atau Why 4,7. Dan janganlah lambang-lambang itu menjadi pedoman untuk memahami Injil masing-masing. Daripada terlalu memperhatikan lambang-lambang, lebih berguna membaca Injil-injil itu sendiri.

96. Mengapa Injil Markus sering disebut yang paling tua?
Karena Injil Markus memang ditulis paling pertama. Dimanfaatkan oleh Matius dan Lukas, dan Yohanes menulis jauh lebih kemudian. Jadi Injil Markus memang adalah Injil yang paling tua dalam arti "Injil tertulis," yang paling pertama. Tetapi juga Markus memanfaatkan Injil lisan yang sudah beredar dalam Gereja zaman itu. Jadi Injil dalam arti sungguh-sungguh paling tua, itu tidak dikenal lagi. Yang kita kenal hanyalah Injil tertulis lengkap yang paling tua, dan itu adalah Injil Markus. Tetapi juga Injil Markus selalu harus dilihat sebagai hasil dan buah dari penghayatan Injil dalam jemaat. Injil Markus berasal dari jemaat dan harus dibaca dan dimengerti dalam jemaat. Juga Markus tidak mengarang Injilnya dari dirinya sendiri saja.

97. Apakah perbedaan pokok antara Injil Yohanes dan Kitab Wahyu?
Perbedaan pokok antara Injil Yohanes dan Kitab Wahyu ialah bahwa yang satu adalah buku Injil dan yang lain buku Wahyu. Maksudnya, Injil Yohanes sebagai kabar gembira mau memberikan suatu gambaran yang jelas dan meyakinkan mengenai diri Yesus sebagai Putra Allah. Sedangkan buku Wahyu dimaksudkan sebagai hiburan untuk jemaat, khususnya jemaat yang ditindas oleh para penguasa. Maka tujuannya lain sama sekali. Injil berpusatkan pada Kristus dan riwayat hidup Yesus, bagaimana dalam tindakan-tindakan Yesus keallahan-Nya tampak. Sebaliknya buku Wahyu itu lebih berbicara mengenai penghiburan yang akan diberikan oleh Allah dan oleh karena itu dipakai bahasa "wahyu," ialah penyingkapan rahasia-rahasia Allah. Sebab di dunia ini, khususnya dalam penganiayaan dan penindasan, tampaknya seolah-olah Allah tidak ada. Maka dalam kitab Wahyu, Yohanes menyingkapkan kenyataan ilahi yang ada di belakang semua itu. Oleh karena itu tidak selalu jelas apakah Yohanes dalam buku Wahyu berbicara mengenai situasi dunia sekarang atau mengenai akhirat. Semua itu menjadi satu. Sebab yang mau ditekankan ialah kehadiran Allah dalam hidup sekarang. Sebaliknya dalam Injil dilukiskan kehadiran Allah khususnya dalam hidup dan pribadi Yesus.

98. Apakah agama Yesus?
Agama Yesus adalah agama Yahudi. Sebab Yesus lahir di dalam sebuah keluarga Yahudi. Padahal bagi orang Yahudi, kebangsaan, kebudayaan dan agama adalah satu. Yesus tidak dapat menjadi Yahudi, Yesus lahir sebagai Yahudi. Dan kalau lahir sebagai orang Yahudi, tentu saja dengan sendirinya juga dididik dengan cara dan kebiasaan orang Yahudi, bukan hanya dalam hal kebudayaan, tetapi juga dalam hal agama. MakaYesus yang lahir dari orangtua Yahudi beragama Yahudi.

99. Apakah Yesus memiliki dan mempelajari Kitab Suci?
Tentu saja Yesus, seperti semua orang Yahudi lainnya, mempelajari Kitab Suci. Apakah Dia juga memiliki Kitab Suci, itu tanda tanya besar, sebab pada umumnya yang memiliki Kitab Suci adalah jemaat di sinagoga. Di situ Kitab Suci disimpan, tetapi di situ juga dipelajari bersama-sama. Sejak masih anak kecil Yesus pasti dibimbing oleh Maria dan Yosef ke dalam agama Yahudi. Sesuai dengan adat kebiasaan orang Yahudi, Maria barangkali mengajarkan kepada-Nya doa-doa dan bagaimana Dia harus membawa Diri dalam doa, khususnya dalam sinagoga, dan bagaimana dalam pergaulan di masyarakat. Dan Yosef kiranya memberikan penjelasan-penjelasan mengenai ajaran agama itu dan mengenai inti pokok iman Yahudi. Oleh orangtua-Nya, Yesus dididik ke dalam seluruh adat istiadat dan pelajaran agama Yahudi.

100. Manakah kata-kata Yesus yang asli dalam Kitab Suci PB?
Ini adalah pertanyaan yang amat sulit, dan terpaksa harus dikatakan bahwa sedikit sekali kata-kata Yesus yang diketahui dengan pasti. Kita ambil dua contoh saja, yakni doa "Bapa Kami" dan Sabda Yesus pada perjamuan terakhir. Doa Bapa Kami terdapat dalam Injil Matius (6,9-13) dan juga dalam Injil Lukas (11,2-4). Dan jika kita membandingkan kedua teks itu, ternyata tidak sama. Tentu juga tidak berbeda seluruhnya. Tetapi ada perbedaanyang cukup penting. Misalnya Matius berkata "Bapa kami yang ada di surga," sedang pada Lukas hanya dibaca "Bapa." Dan begitu terus, ada perbedaan yang cukup penting juga. Sama halnya dengan sabda Yesus pada perjamuan terakhir, yang menjadi dasar untuk perayaan ekaristi sekarang. Sabda itu terdapat dalam ketiga Injil sinoptis (Mat 26, 26-28; Mrk 14, 22-24; Luk 22, 19-20), dan juga pada Paulus (1Kor 11, 23-25). (Lihat teksnya pada pertanyaan 129). Dan kalau kita membandingkannya dengan teliti, kelihatan bahwa ada perbedaan yang cukup berarti. Yang sekarang lazim dipakai dalam perayaan ekaristi adalah sedikit "harmoni" atau kombinasi dari keempat teks itu. Tetapi apa yang persis
dikatakan oleh Yesus pada perjamuan terakhir, tidak ada yang tahu. Dan begitu dengan hampir semua sabda Yesus yang terdapat dalam Injil. Jangan lupa, bahwa ketika Yesus bergaul bersama para Rasul di Palestina, mereka tidak berjalan di belakang Yesus dengan notes dan spidol di dalam tangannya, untuk mencatat segala-galanya yang dikatakan oleh Yesus. Tetapi baru kemudian, lama sesudah Yesus wafat dan bangkit bahkan telah naik ke surga, mereka mulai mencatat semuanya itu. Yesus wafat sekitar th. 30-an. Injil Markus, yang adalah yang paling tua, baru ditulis seputar th. 60. Jadi ada jarak 30 tahun antara kedua peristiwa itu. Tentu saja Markus dan pengarang-pengarang Injil yang lain tidak mengarang Injilnya semata-mata atas dasar ingatan mereka sendiri. Mereka mempergunakan tradisi-tradisi yang diteruskan dalam jemaat. Tetapi tentu saja jemaat juga tidak selalu tepat dalam mengulangi sabda-sabda Yesus itu. Maka yang pokok-pokok memang tepat, tetapi rumusan persis, seperti yang dikatakan oleh Yesus, kiranya sudah tidak ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar