Minggu, 08 Agustus 2010

MENGENAL KITAB MAZMUR

Kitab Mazmur termasuk kelompok kitab-kitab Kebijaksanaan, yang ditempatkan setelah kitab Ayub dan sebelum kitab Amsal. Kitab Mazmur terdiri atas 150 buah syair keagamaan yang pada mulanya biasa dipakai dalam ibadat Yahudi. Sebenarnya kitab Mazmur bisa disebut sebagai kumpulan dari kumpulan. Sebagai suatu kumpulan doa, kitab Mazmur amat kaya dengan ungkapan hati manusia sebagai umat beriman menghadapi berbagai macam situasi dalam hidupnya. Di dalamnya kita temukan ungkapan perasaan umat beriman dari yang lembut sampai ke perasaan emosional, ada keluhan atau ratapan, pujian, ketakutan, kepercayaan, kesedihan dan kegembiraan.

1. NAMA MAZMUR
Nama mazmur berasal dari bahasa Ibrani mizmor, artinya nyanyian yang diiringi dengan alat musik berdawai. Kita menyebutnya mazmur karena pengaruh bahasa Arab. Dalam bahasa Arab sendiri, nyanyian ibadat yang serupa dengan mazmur disebut Zabur. Kitab Mazmur dalam Kitab Suci Yahudi disebut Sefer Tehillim (Kitab Puji-pujian). Akar kata dari tehillim adalah kata Ibrani hll, yang artinya memuji. Dari akar kata hll muncul ungkapan ”haleluya” (pujilah Tuhan). Ungkapan ini kita temukan pada awal atau akhir sejumlah mazmur (Mzm 104:35; 106:1,48; 113:1,9; 146-150). Dalam Kitab Suci bahasa Ibrani nama mizmor tidak dipakai sebagai judul kitab, tetapi hanya disebut dalam judul sejumlah mazmur. Dalam bahasa Inggris, kitab Mazmur disebut ”The book of Psalms”. Kata psalm berasal dari kata Yunani Psalmos yang artinya lagu puji-pujian. Istilah psalmos berasal dari kata kerja psallo, artinya bernyanyi dengan iringan alat musik berdawai (semacam harpa, atau gitar). Dalam bahasa Latin kitab Mazmur disebut Liber Psalmorum. Dari telaah arti katanya, mazmur merupakan sebuah doa yang dinyanyikan.

2. SIAPAKAH PENGARANG MAZMUR?
Tradisi Yahudi dan Kristiani di masa lalu meyakini bahwa pengarang kitab Mazmur adalah Daud. Sebenarnya, hanya 73 mazmur yang menyebut nama Daud pada judulnya. Selain itu, ada 13 mazmur yang dikaitkan dengan peristiwa yang dialami Daud (Mzm 3, 7, 18, 34, 51-52, 54, 56-57, 59-60, 63, 142). Adalah masuk akal apabila Daud dianggap sebagai penulis mazmur karena ia mempunyai bakat musik (2Sam 1:19-27; 3:33-34) dan punya minat pada liturgi (2Sam 6:5,15-16). Namun begitu, dapat dibuktikan
dengan mudah bahwa Daud tidak menulis seluruh mazmur. Mungkin hanya beberapa mazmur yang dia tulis dan kita tidak tahu lagi mazmur yang mana. Selain nama Daud, ada nama tokoh-tokoh lain yang disebut di awal sejumlah mazmur, yaitu: Asaf, bani Korah, Heman dan Etan. Nama-nama yang disebut di sini rupanya orang-orang yang berperan dalam liturgi di Bait Allah. Sejumlah mazmur rupanya berasal dari kumpulan nyanyian milik mereka. Ada sejumlah mazmur yang berasal dari zaman sesudah Daud, misalnya Mzm 137. Oleh karena itu, jelas bahwa tidak semua mazmur merupakan karya Daud.
Tidak mudah untuk menentukan kapan mazmurmazmur ditulis. Para ahli Kitab Suci cenderung membagi periode penyusunan mazmur sebelum dan sesudah jaman pembuangan di Babilonia. Yang jelas kitab Mazmur sudah mulai ditulis sejak zaman Daud dan berakhir sesudah zaman pembuangan. Sekitar tahun 300 sebelum Masehi semua mazmur telah selesai ditulis.

3. KITAB MAZMUR SEBAGAI BUKU DOA
Kitab Mazmur yang kita kenal sekarang ini adalah kumpulan doa umat Yahudi, yang didoakan secara bersama-sama maupun secara pribadi di dalam berbagai kesempatan dan kepentingan. Doa mazmur mempunyai beberapa kekhasan yang perlu kita ketahui, antara lain:
a. Di dalam doa mazmur ada pemaparan situasi dan kondisi yang dialami pemazmur, yang sekaligus menjadi alasan mengapa dia berdoa.
b. Mazmur ditulis dalam bentuk puisi, mengikuti pola puisi bangsa Israel pada waktu itu, yaitu pola parallel (paralelisme membrorum). Masing-masing ayat terdiri atas dua klausa atau lebih yang saling berkaitan. Keindahan bunyi, makna ungkapan dan ritme kata-kata di dalam mazmur diperhitungkan sedemikian rupa untuk menambah keindahan doa mazmur sebagai puisi doa yang dinyanyikan. Sayang, ritme di dalam mazmur tidak kelihatan lagi ketika mazmur diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain.
c. Keindahan doa mazmur antara lain ditunjukkan lewat bahasa kiasan, perlambangan, ungkapan-ungkapan simbolik. Misalnya, Tuhan digambarkan sebagai: Gembala, Terang, Pengajar (pendidik), Gunung batu, Matahari, Perisai, Penebus. Orang-orang yang melawan para pemazmur (musuh-musuh) disebut dengan kata kiasan: lembu, anjing, pendendam. Demikian pula situasi yang dialami pemazmur digambarkan dengan kiasan: hampir tenggelam dalam banjir jahanam, tali maut yang melilit tubuh, terbaring dalam debu, rusa yang mendamba air. Ungkapan simbolik dan bahasa kiasan di dalam mazmur amat kaya.
d. Mazmur sebagai doa adalah ungkapan iman. Di dalam berbagai macam situasi, pemazmur menunjukkan keyakinannya akan adanya Tuhan yang hidup dan berkarya. Bahkan di dalam kondisi paling pahit pun pengarang tetap yakin bahwa Tuhan akan memberi pertolongan.
e. Tema doa mazmur banyak variasinya. Tema yang dominan di dalam kitab Mazmur adalah permohonan, pujian, dan kepercayaan.

4. PEMBAGIAN KITAB MAZMUR
Seperti kitab Taurat (Pentateuch), 150 buah mazmur di dalam kitab Mazmur dikelompokkan ke dalam 5 kumpulan atau 5 jilid. Masing-masing jilid ditutup dengan semacam doksologi, rumusan pujian pada Allah (Mzm 41:13; 72:18-19; 89:52; 106:48; 150). Misalnya dalam Mzm 41:13 disebutkan: ”Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Amin.” Jilid pertama mulai dengan mazmur 3 karena mazmur 1 dan 2 merupakan pendahuluandari seluruh kitab Mazmur.

(1) Jilid I (Mzm 3-41): Jilid pertama atau buku pertama kitab Mazmur hampir seluruhnya dikaitkan dengan Daud. Mayoritas dari mazmur-mazmur pada bagian pertama ini adalah mazmur-mazmur individual.
(2) Jilid II (Mzm 42-72): Jilid kedua berisi mazmurmazmur dihubungkan dengan bani Korah, yaitu kelompok pemusik dan penyanyi liturgi (bdk. 2Taw 20:19). Mazmur bani Korah ini terdapat juga pada mazmur 84-85; 87-88.
(3) Jilid III (Mzm 73-89): Bagian ini hanya berisi 17 mazmur, sebagian besar berupa mazmur keluhan atau ratapan. Sejumlah mazmur dikaitkan dengan seorang tokoh bernama Asaf (lihat Mzm 73-83). Satu-satunya mazmur Asaf di tempat lain adalah Mzm 50. Asaf adalah nama seorang pemain musik ibadat dari suku Lewi yang ditugaskan oleh Daud untuk memimpin nyanyian ketika tabut perjanjian dibawa masuk ke Yerusalem (1Taw 6:39; 15:17-19; 16:4-6) dan yang hadir pada saat peresmian kenisah buatan Salomo (2Taw 5:12). Keluarga dan keturunan Asaf masih aktif sebagai pemusik pada zaman kemudian.
(4) Jilid IV (Mzm 90-106): Bagian ini juga terdiri atas 17 mazmur. Kita temukan 6 dari 7 mazmur yang bertemakan Yahwe meraja (93 dan 95-99). Mazmur 103 dan 104 dihubungkan satu sama lain dengan rumusan pujian kepada Tuhan (Yahwe) yang ditempatkan pada bagian awal dan akhir. Mazmur 105-106 sama-sama memuji kuat kuasa Allah atas sejarah Israel. Keduanya dimulai dengan ungkapan ”Bersyukurlah kepada Tuhan” dan diakhiri dengan ”Haleluya”.
(5) Jilid V (Mzm 107-150): Bagian ini merupakan kumpulan yang terbanyak dari kelima jilid kitab Mazmur, karena di dalamnya terdapat 44 buah mazmur. Mazmur-mazmur Daud terdapat pada bagian-bagian awal (108-110) dan menjelang akhir (138-145). Mazmur 119 adalah khusus karena disusun menurut urutan abjad Ibrani. Bentuk mazmur yang ditulis dengan mamakai urutan abjad Ibrani ini disebut ”mazmur akrostik”. Mazmur 120-134 adalah koleksi mazmur ziarah. Mazmur 140-143 adalah rangkaian terakhir dari keluhan individual. Bagian kelima dari kitab Mazmur ini diakhiri dengan lima rangkaian ung kapan pujian: ”Pujilah Allah/Dia” dan ”Haleluya”.

5. JENIS-JENIS MAZMUR
Berdasarkan temanya, mazmur-mazmur dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Mazmur Pujian: Mazmur pujian (himne, madah) berupa koleksi nyanyian umat yang digunakan lebih lebih dalam liturgi. Isinya memang berupa puji-pujian kepada Tuhan dan segala karya-Nya. Mazmurmazmur pujian tidak dikarang oleh satu orang saja. Editor dari mazmur pujian rupanya mengumpulkan mazmur-mazmur pujian dari beberapa pengarang yang berbeda-beda latar belakangnya. Misalnya: Mzm 8; 19; 29; 33; 65; 66:1-12; 100; 103; 104; 111; 113; 114; 117; 134; 135; 136; 145; 146; 147; 148; 149; 150. Tuhan Allah Israel memang patut dipuji karena keagungan-Nya dan kehebatan karya-Nya.
b. Nyanyian Sion (mazmur ziarah): Mazmur-mazmur yang termasuk jenis nyanyian-nyanyian Sion adalah Mzm 46; 48; 84; 122. Nyanyian Sion mengagungkan Tuhan karena pilihan dan perlindungan-Nya atas Sion (Yerusalem) yang disebut juga sebagai ”kota Allah” (Mzm 46:5; 48:2, 9; 87:3), ”kota Tuhan semesta alam” (Mzm 48:9; bdk 84:2), ”kota Raja Besar” (Mzm 48:3) dan ”kediaman Allah yang Mahatinggi” (Mzm 46:5). Kehadiran Allah di dalam kota Sion memberi jaminan perlindungan dari kesusahan, bencana alam, dan serangan musuh (Mzm 46; 48; 76). Ke sanalah semua suku Israel berziarah untuk menyanyikan pujian kepada Tuhan (Mzm 84:6-7; 122).
c. Mazmur Permohonan: Sepertiga dari Kitab Mazmur adalah mazmur-mazmur jenis permohonan. Mazmurmazmur jenis ini sering disebut mazmur ”ratapan” atau ”keluhan”. Kedua istilah ini tidak sepenuhnya tepat karena tujuan utama dari mazmur-mazmur ini bukanlah meratap ataupun mengeluh. Latar belakang dari mazmur-mazmur jenis ini pada umumnya adalah penderitaan manusia. Mazmur-mazmur permohonan terdiri atas dua jenis, yaitu permohonan individual dan permohonan kolektif (jemaah). Yang termasuk permohonan individual ialah Mzm 5, 6, 7, 13, 17, 22, 25, 26, 28, 31, 35, 38, 39, 42-43; 51; 55; 57; 59; 61; 63; 64; 70 (=40:14-18); 71; 86; 88; 102; 109; 120; 130; 140; 141; 142; 143. Yang termasuk permohonan kolektif adalah Mzm 12; 44; 58; 60; 74; 79; 80; 83; 85; 94; 123; 137.
d. Mazmur kepercayaan: Doa kepercayaan sangat dekat hubungannya dengan doa permohonan. Juga doa kepercayaan dapat dibagi atas dua jenis, yaitu doa kepercayaan individual dan doa kepercayaan kolektif. Yang termasuk dalam doa kepercayaan individual ialah Mzm 3; 4; 11; 16; 23; 62; 121; 131; yang termasuk doa kepercayaan kolektif ialah 115; 125; 129. Doa kepercayaan adalah ungkapan iman akan Tuhan yang diwarnai dengan ketenangan hati, kedamaian jiwa, kegembiraan dan kekuatan, meskipun pemazmur pada waktu itu sedang menghadapi kesukaran, tantangan dan penderitaan hidup. Gambaran Tuhan di dalam mazmur-mazmur kepercayaan cukup kaya, antara lain Tuhan diyakini sebagai Perisai (Mzm. 3:4), Gembala (Mzm. 23:1), Warisan dan pialaku (Mzm 16:5), Gunung batu dan Kota benteng (Mzm. 62), Penjaga dan naungan (Mzm. 121), bahkan sebagai Ibu (Mzm. 131). Doa kepercayaan membawa kita ke nilai-nilai hidup batin yang tinggi, yang menggemakan pujian akan Tuhan di tengah pergulatan hidup manusia.
e. Mazmur ucapan syukur: Ucapan syukur merupakan doa perseorangan/individual (Mzm. 30; 32; 40:2-12; 66:13-20; 92; 116; 138) dan kolektif (67; 107:1-32; 118; 124). Pemazmur merasa bahwa doa-doanya telah dikabulkan oleh Tuhan sehingga dia layak bersyukur. Di dalam doa syukur kolektif, ada undangan untuk bersyukur dan memuji Tuhan dan alasan untuk memuji Tuhan. Bersyukur dan memuji sangat berdekatan artinya, bersyukur selalu mengandung unsur memuji. Tempat menyanyikan doa ucapan syukur ialah Bait Suci. Doa syukur perorangan tidak dilakukan secara diam-diam dan dalam batin, tetapi ”di depan seluruh umat-Nya” sebagai suatu kesaksian akan kebaikan Allah.
f. Mazmur-mazmur raja: Mazmur rajawi tidak dibuat dalam kelompok tersendiri, tetapi tersebar di dalam kitab Mazmur. Kita dapati antara lain pada Mzm 2, 72, 89. Pada saat kitab Mazmur mengalami peredaksian akhir, Israel sudah tidak mempunyai raja lagi. Sistem kerajaan Israel telah hancur. Meskipun begitu mazmur-mazmur rajawi tetap dipakai dengan tujuan untuk menghidupkan harapan dan gagasan tentang ”raja ideal”, yaitu ”Mesias”. Yang termasuk dalam kelompok mazmur-mazmur raja ialah Mzm 2, 18, 20, 21, 45, 72, 89, 101, 110, 132, 144:1-11. Raja adalah orang yang diurapi Tuhan untuk memimpin umat Nya. Oleh karena itu sebutan umum untuk untuk raja ialah ”yang diurapi Tuhan” (bdk. Mzm. 132:17; 84:10; 89:39, 52; 132:10; 2:2; 18:51; 20:7; 28:8).
g. Mazmur kebijaksanaan: Ada sejumlah mazmur yang menurut tema, gaya dan isinya, sama dengan sastera kebijaksanaan. Mazmur-mazmur kebijaksanaan dan ti dak mempunyai pola tertentu. Yang termasuk kelompok ini ialah Mzm 1, 19:8-15; 34; 37; 49; 73; 112; 119; 127; 128; 133. Gaya mengajar itu tampak dalam nasihat yang berbentuk larangan dan perintah (bdk. 37; 34:14-15; 49:17-18), sapaan ”anak-anak” (Mzm 34:12; 49:2-5), seruan ”dengarkanlah aku” (Mzm 34:12; 49:2-5), seruan atau salam ”berbahagialah” yang mengandung unsur mengajak (Mzm 1:1; 34:9; 112:1; 5; 119:1-2; 127:5; 128:1) amsal perbandingan yang dibuka dengan frase ”lebih baik” (Mzm 37:16). Di samping itu terdapat pula istilah-istilah khas kebijaksanaan seperti ”hikmat” (Mzm 49:4), ”amsal”, ”peribahasa” (Mzm 49:5) dan ”takut akan Tuhan” (Mzm 19:8-15; 34; 37; 112; 119; 127; 128).
h. Mazmur Sejarah: Mzm 78, 105, 106 biasanya disebut mazmur-mazmur sejarah. Mazmur-mazmur ini menceritakan kembali sejarah keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan bagi umat-Nya, mulai dengan panggilan para Bapa bangsa (Mzm 105), pengungsian ke Mesir (Mzm 105), tindakan Tuhan di tanah Mesir, perjalanan melalui padang gurun sampai ke tanah perjanjian (Mzm 78; 105; 106) dan bahkan sampai ke zaman para hakim (Mzm 78; 106) dan pemilihan Daud serta Sion (Mzm 18). Tujuan dari penyusunan mazmur sejarah ini adalah untuk mengajar umat.
i. Mazmur-mazmur kenabian: Mzm 14 (= 53), 50, 52,75, 81, 82 dan 95 dapat disebut mazmur-mazmur
kenabian karena gaya dan isinya menyerupai firman yang memberitakan nubuat serta hukuman atas Israel seperti yang disampaikan oleh para nabi. Mazmur-mazmur ini mengandung kata-kata kecaman terhadap para penindas (Mzm 14:1-3 = 53:2-4; 52:3-6; 82:2), atas ibadat yang keliru (Mzm 50:7-13), kesalehan yang palsu (Mzm 50:16-21) dan kedegilan hati Israel untuk mendengarkan suara Tuhan (Mzm 81:12). Menyusul kecaman itu terdapat ancaman hukurnan (Mzm 14:5-6 = 53:6; 52:7-9; 75:9; 82:6-7) atau suatu seruan dan panggilan untuk mengubah sikap dan kembali kepada Tuhan (Mzm 50:14-15; 22; 75:5-8; 82:3-4). Dilihat dari bentuknya, mazmur-mazmur ini mempunyai unsur-unsur dari suatu liturgi, namun dilihat dari isinya mazmur-mazmur ini lahir sebagai jawaban terhadap pewartaan para nabi.

6. MAZMUR SEBAGAI PUISI
Selain merupakan doa yang dinyanyikan, kekhasan mazmur adalah bentuk puitisnya. Mazmur adalah kumpulan puisi doa. Sebagai bentuk sastra, puisi dapat dengan mudah dibedakan dari prosa karena gaya penggambarannya dan iramanya. Dengan pemilihan kata-kata yang padat arti dan penuh lambang, pengarang mengungkapkan sesuatu yang lebih jauh dan lebih dalam daripada yang tertulis.
A. Bentuk Paralelisme
Puisi Ibrani terdiri atas baris-baris kalimat yang umumnya mempunyai lebih dari satu klausa. Setiap ayatnya bisa terdiri dari dua baris (bikolase) atau tiga baris (trikolase). Dalam Alkitab, baris kedua dicetak sedikit lebih ke kanan. Bentuk puisi semacam ini disebut bentuk Paralelisme. Paralelisme ini bukan hanya khas untuk puisi Ibrani, namun juga untuk puisi di dalam tradisi bangsa Semit pada umummnya. Ada 4 bentuk paralelisme:
a. Paralelisme sinonim (searti): yaitu gagasan dalam baris pertama diperdalam oleh baris kedua, misalnya: Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka, dan membuang tali-tali mereka dari kita. (Mzm
2:3)
b. Paralelisme antitetis: artinya baris kedua menegaskan gagasan dari baris pertama dari sudut yang berlawanan, misalnya: Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak. (Mzm 20:9)
c. Paralelisme sintetis: artinya baris kedua melanjutkan atau melengkapi gagasan dalam baris pertama, misalnya: Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus. (Mzm 2:6)
d. Paralelisme perbandingan: artinya baris yang satu memperjelas gagasan dalam baris yang lain melalui suatu perbandingan, misalnya: Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. (Mzm 42:2)
Dari contoh-contoh di atas, kelihatan bahwa bentuk paralelisme dipakai dengan tujuan untuk mengembangkan gagasan secara bertahap, dari baris yang satu ke baris yang berikutnya.

6. PENGALAMAN DAN PAHAM IMAN DI DALAM
MAZMUR
Mazmur sebagai doa adalah ungkapan iman yang berangkat dari pengalaman nyata. Pengalaman dan paham iman macam apakah yang ada di dalam mazmur? Pe mazmur di dalam doanya berbicara kepada Allah tetapi juga berbicara tentang Tuhan. Segala pergulatan hidup pemazmur, baik dalam suka maupun duka, tidak terlepas dari mata Tuhan Allah. Dia selalu hadir dan tahu apa yang terjadi pada umat-Nya. Allah bukan hanya tahu dan hadir tetapi juga bertindak sebagai Penyelamat. Untuk itulah pemazmur dengan penuh iman berdoa kepada-Nya. Allah disadari oleh pemazmur sebagai Dia yang hadir dengan karya penciptaan-Nya, karya penyelenggaraan-Nya, dan karya keselamatan-Nya. Dia mewahyukan Diri-
Nya dengan berbagai macam cara. Manusia beriman dapat mengenal perwahyuan Allah antara lain lewat ciptaan-Nya dan tindakan-Nya. Meskipun begitu, karena kerapuhannya, manusia sering mengabaikan kehadiran dan perwahyuan Tuhan. Manusia jatuh di dalam dosa dan harus bertobat agar memperoleh rahmat keselamatan. Berhadapan dengan karya-karya Tuhan yang luar biasa, umat beriman layak bersyukur dan memuji-Nya. Meskipun umat harus bergulat dengan berbagai macam persoalan, namun kedekatan dengan Tuhan akan membuat hati tenang dan teguh. Di dalam mazmur-mazmur kepercayaan, pemazmur mengungkapkan betapa Tuhan menjadi perlindungannya dan kepada-Nya dia berani mengandalkan diri sepenuhnya. Di dalam mazmur-mazmur pujian, iman umat terungkap
lebih jelas. Iman yang diungkapkan bukanlah iman yang teoretis, tetapi iman yang berangkat dari pengalaman hidup nyata, yang dihayati oleh pemazmur secara pribadi (individual, personal) ataupun bersama-sama (kolektif).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar